LATEST FROM OUR BLOG

. . .

Senin, 03 Juli 2017



29 Juni 2017

Psikologi Pendidikan: Pedagogi dan Andragogi 

       Pedagogi adalah suatu teori belajar yang cocok dan tepat untuk masa kanak-kanak. Istilah pedagogi berasal dari bahasa Yunani yaitu “paid” berarti kanak-kanak dan “agogos” berarti memimpin. Kemudian Pedagogi mengandung arti memimpin anak-anak atau perdefinisi diartikan secara khusus sebagai “suatu ilmu dan seni mengajar kanak-kanak”. Akhirnya pedagogi kemudian didefinisikan secara umum sebagai “ilmu dan seni mengajar”.
      
      Sedangkan andragogi ialah teori belajar yang dikembangkan untuk kebutuhan khusus orang dewasa. Andragogi berasal dari bahasa Yunani kuno "aner", dengan akar kata “andr”, yang berarti orang dewasa, dan “agogus” yang berarti membimbing atau membina. Andragogi berlaku bagi segala bentuk pembelajaran orang dewasa dan telah digunakan secara luas dalam rancangan program pelatihan organisasi, khususnya untuk domain keterampilan lunak (soft skill).

       Seni mengajar orang dewasa berlaku disemua tempat, ketika peserta didik atau warga belajarnya menunjukkan tanda-tanda kedewasaan yang baik. Belajar bagi orang dewasa harus menjadi aktif, bukan proses pasif. Pendidikan orang dewasa menitikberatkan pada peningkatan kehidupan mereka, memberikan keterampilan dan kemampuan untuk memecahkan permasalahan yang mereka alami dalam hidup mereka dan dalam masyarakat.

     Model andragogi menegaskan bahwa lima permasalahan yang harus diperhatikan dan dibahas dalam pembelajaran formal, yaitu:
  1. Siswa dibiarkan mengenal sesuatu kenapa sesuatu itu penting untuk dipelajari.
  2. Peragakan pada siswa bagaimana untuk mengarahkan diri mereka sendiri melalui informasi yang tersedia.
  3. Hubungkan topik tersebut dengan pengalaman siswa itu sendiri.
  4. Orang tidak akan belajar apa-apa kecuali jika mereka siap dan termotivasi untuk belajar.
  5. Diperlukan upaya membantu mereka mengatasi hambatan, perilaku, dan keyakinan tentang belajar.
      Andragogi disebut dalam teks pendidikan sebagai cara orang dewasa belajar. Knowles sendiri mengaku bahwa 4 dari 5 kunci asumsi andragogi terterapkan secara seimbang baik itu untuk anak-anak atau dewasa. Perbedaan yang mendasar yaitu anak-anak memiliki pengalaman yang lebih sedikit dari pada orang dewasa.
Karakteristik pembelajar dewasa:
  • Pelajar dewasa biasanya memiliki maksud yang teridentifikasi.
  • Pelajar dewasa biasanya memiliki pengalaman sebelumnya.
  • Pelajar dewasa bisanya ingin segera mengambil manfaat dari hasil belajarnya.
  • Pelajar dewasa memiliki konsep diri secara satu-arah.
  • Pelajar dewasa membawa dirinya dengan reservoir pengalaman.
  • Pelajar dewasa membawa keraguan dan ketakutan yang luas bagi proses pendidikan.
  • Pelajar dewasa biasanya sangat kuat pada ketahanan perubahan.
  • Pelajar dewasa memiliki “tujuan yang dewasa”.
  • Masalah pelajar dewasa yang berbeda dari masalah anak-anak.
Perbedaan Pedagogi dan Andragogi
Andragogi
Pedagogi
Pembelajar disebut peserta didik atau warga belajar
Pembelajar disebut siswa atau anak didik
Gaya belajar independen
Gaya belajar dependen
Tujuan fleksibel
Tujuan ditentukan sebelumnya
Diasumsikan bahwa peserta didik memiliki pengalaman untuk berkontribusi
Diasumsikan bahwa siswa tidak berpengalaman dan kurang informasi
Menggunakan metode pelatihan aktif
Metode pelatihan pasif
Pembelajar mempengaruhi waktu dan kecepatan
Guru mengontrol waktu dan kecepatan
Keterlibatan atau kontribusi peserta sangat penting
Peserta berkontribusi sedikit pengalaman
Belajar terpusat pada masalah kehidupan nyata
Belajar berpusat pada isi atau pengetahuan teoritis
Peserta dianggap sebagai sumberdaya utama untuk ide dan contoh
Guru sebagai sumberdaya utama yang memberikan ide dan contoh

Asumsi Pedagogi dan Andragogi

Asumsi Andragogi
Asumsi Pedagogi
Konsep diri
Peningkatan arah-diri atau ketergantungan
Ketergantungan pada guru
Pengalaman
Pelajar merupakan sumberdaya yang kaya untuk belajar
Berharga kecil
Kesiapan
Tugas perkembangan: Peran sosial
Tugas perkembangan: Tekanan sosial
Perspektif waktu
Kecepatan aplikasi
Aplikasi ditunda
Orientasi untuk belajar
Berpusat pada masalah
Berpusat pada substansi mata pelajaran
Iklim belajar
Mutualitas/pemberian pertolongan, rasa hormat, kolaborasi, dan informal
Berorientasi otoritas, resmi, dan kompetetif
Perencanaan
Reksa (mutual) diagnosis diri
Oleh guru
Perumusan tujuan
Reksa negosiasi
Oleh guru
Desain
Diurutkan dalam hal kesiapan unit masalah
Logika materi pelajaran
Kegiatan
Teknik pengalaman (penyelidikan)
Teknik pelayanan
Evaluasi
Reksa diagnosis-kebutuhan dan reksa program pengukuran
Oleh guru



26 Juni 2017

Psikologi Pendidikan: Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus 

     Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah anak dengan karakteristik khusus yang memiliki perbedaan dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukkan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik dalam proses pertumbuhan atau perkembangannya sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Para pendidik lebih sering menggunakan istilah “children with disabilities” daripada “disable children” (anak cacat). 
Tujuannya adalah memberi penekanan pada anaknya bukan pada cacat atau ketidakmampuannya. Ketidakmampuan dan gangguan (disorder) dikelompokkan sebagai berikut:
1. Gangguan Indra
a. Gangguan Penglihatan/ Tunanetra, meliputi:
  • Low Vision : hanya dapat membaca buku dengan huruf besar-besar dengan bantuan kaca pembesar.
  • Educationally Blind : tidak bisa menggunakan penglihatan untuk belajar dan harus menggunakan pendengaran dan sentuhan.
   Bentuk satuan pendidikan bagi anak tunanetra ialah SLB A. Karena tunanetra memiliki keterbatasan dalam indra penglihatan maka proses pembelajaran menekankan pada alat indra yang lain yaitu indra peraba dan indra pendengaran. Oleh karena itu, prinsip yang harus diperhatikan dalam memberikan pengajaran kepada individu tunanetra adalah media yang digunakan harus bersifat taktual dan bersuara, seperti penggunaan tulisan braille, gambar timbul, benda model dan benda nyata.

b. Gangguan Pendengaran/ Tunarungu

   Penderita tunarungu biasanya lemah dalam kemampuan berbicara dan bahasa. Pendekatan pendidikan untuk membantu anak tunarungu terdiri dari dua kategori, yaitu;
  • Pendekatan Oral : menggunakan metode membaca gerak bibir, speech reading (menggunakan alat visual untuk mengajar membaca) dan sejenisnya.
  • Pendekatan Manual : menggunakan bahasa isyarat dan mengeja jari (finger Spelling).

     Bentuk satuan pendidikan bagi anak tunarungu ialah SLB B. Anak dengan gangguan ini akan dapat keuntungan akademik, namun dengan rasa penghargaan diri yang rendah jika mereka ditempatkan di kelas regular. Kekuatan keterampilan lisan dan pendengaran anak adalah aspek penting untuk kesuksesan di kelas reguler.

2. Gangguan Fisik
a. Gangguan Ortopedik/ Tunadaksa

      Biasanya berupa keterbatasan gerak atau kurang mampu mengontrol gerak karena adanya masalah di otot, tulang, atau sendi. Gangguan ortopedik bisa disebabkan oleh problem prenatal atau perinatal, atau karena penyakit bahkan kecelakaan saat anak-anak. Cerebral palsy merupakan gangguan yang berupa lemahnya koordinasi otot, tubuh sangat lemah dan goyah (shaking) atau bicaranya tidak jelas. Penyebab umum dari cerebral palsy adalah kekurangan oksigen saat kelahiran. Dalam jenis cerebral palsy yang paling umum, yang disebut spastic, yaitu otot anak menjadi kaku dan sulit digerakkan. Bentuk satuan pendidikan bagi anak tunadaksa adalah SLB D.

b. Gangguan kejang-kejang/ epilepsi
               
        Epilepsi yakni gangguan saraf yang biasanya ditandai dengan serangan terhadap sensorimotor atau kejang-kejang. Epilepsi muncul dalam beberapa bentuk berbeda, yaitu:
  • Absent Seizures : anak mengalami kejang-kejang dalam durasi singkat (kurang dari 30 detik) tetapi bisa terjadi beberapa kali sampai seratus kali dalam sehari.
  • Tonic-clonic : anak akan kehilangan kesadrannya dan menjadi kaku, gemetar, dan bertingkah aneh. Bila parah, tonic-clonic bisa berlangsung selama tiga sampai empat menit.

3. Retardasi Mental/ Tunagrahita
      Retardasi mental adalah kondisi sebelum usia 18 tahun yang ditandai dengan rendahnya kecerdasan (nilai IQ dibawah 70) dan sulit beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari. Retardasi mental dapat diklasifikasikan menjadi beberapa tipe :
  • Retardasi mental ringan ( IQ 55-70)
  • Retardasi mental moderat ( IQ 40-54 )
  • Retardasi mental berat ( IQ 25-39 )
  • Retardasi mental parah ( IQ < 25 )

       Bentuk yang paling umum dari retardasi mental adalah Down Syndrome yang diakibatkan adanya kromosom ekstra (kromosom ke 47), kemudian Fragile X syndrome yang diakibatkan adanya kromosom X yang tidak normal. Selain faktor genetik, retardasi mental juga bisa disebabkan oleh faktor lingkungan seperti benturan dikepala, malnutrisi, keracunan, luka saat kelahiran, atau ibu hamil yang kecanduan alkohol.
        Bentuk satuan pendidikan bagi anak tunagrahita ialah SLB C. Anak dengan retardasi mental yang dapat dididik atau ber-IQ mulai dari 50-70 dan punya problem perilaku adaptif akan terpengaruh dengan guru yang suportif, pengajaran yang kompeten, dan teman kelas yang suportif. 

4. Gangguan Bicara dan Bahasa
a.   Gangguan Artikulasi

      Gangguan artikulasi ialah problem dalam melafalkan suara secara benar. Gangguan ini bisa diperbaiki dengan terapi bicara meski membutuhkan waktu yang lama.

b. Gangguan Suara

       Gangguan suara merupakan gangguan dalam menghasilkan ucapan , yakni ucapan yang keras, kencang, terlalu keras, terlalu tinggi, atau terlalu rendah nadanya sehingga sulit dipahami. Sebaiknya anak yang saat bicara sulit dipahami dibawa ke spesialis terapi bicara.

c. Gangguan Kefasihan
     
      Gangguan kefasihan atau kelancaran bicara biasa disebut gagap. Hal ini terjadi ketika ucapan anak terbata-bata, jeda panjang, atau berulang-ulang.

d. Gangguan Bahasa

      Gangguan bahasa ialah kerusakan signifikan dalam bahasa reseptif atau bahasa ekpresif anak. Bahasa reseptif maksudnya adalah penerimaan dan pemahaman atas bahasa. Penderita gangguan bahasa ini akan kesulitan dalam menerima informasi. Sedangkan bahasa ekspresif ialah kemampuan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan pemikiran dan berkomunikasi dengan orang lain. Pada penderita ini anak kesulitan untuk memberi tanggapan atau mengekspresikan pendapatnya.  

5. Ketidakmampuan Belajar
     Anak dengan gangguan ini biasanya punya kecerdasan normal atau lebih; mereka setidaknya kesulitan dalam satu bidang akademik atau lebih; dan kesulitan itu tidak berkaitan dengan gangguan gangguan lain seperti retardasi mental. Dyslexia adalah gangguan parah dalam kemampuan membaca dan mengeja. Anak dengan ketidakmampuan belajar kerap mengalami kesulitan menulis dengan tangan, mengeja atau menyusun kalimat, dan kesulitan dalam bidang matematika.

6. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
       ADHD adalah ketidakmampuan di mana anak menunjukkan problem yang terus menerus dalam satu atau lebih dalam hal kurang perhatian, hiperaktif, dan impulsif.

7. Gangguan Perilaku dan Emosional/ Tunalaras
      Tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. Individu tunalaras biasanya menunjukan perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku disekitarnya. Tunalaras dapat disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal yaitu pengaruh dari lingkungan sekitar. Bentuk satuan pendidikan bagi anak tunalaras adalah SLB E.

     Di dalam pelaksanaan penyelenggaraannya kita mengenal macam-macam bentuk penyelenggaraan pendidikan anak tunalaras/sosial sebagai berikut:

1. Penyelenggaraan bimbingan dan penyuluhan di sekolah reguler. Jika diantara murid di sekolah tersebut ada anak yang menunjukan gejala kenakalan ringan segera para pembimbing memperbaiki mereka. Mereka masih tinggal bersama-sama kawannya di kelas, hanya mereka mendapat perhatian dan layanan khusus.

2. Kelas khusus apabila anak tunalaras perlu belajar terpisah dari teman pada satu kelas. Kemudian gejala-gejala kelainan baik emosinya maupun kelainan tingkah lakunya dipelajari. Diagnosa itu diperlukan sebagai dasar penyembuhan. Kelas khusus itu ada pada tiap sekolah dan masih merupakan bagian dari sekolah yang bersangkutan. Kelas khusus itu dipegang oleh seorang pendidik yang berlatar belakang PLB dan atau Bimbingan dan Penyuluhan atau oleh seorang guru yang cakap membimbing anak.

3. Sekolah Luar Biasa bagian Tunalaras tanpa asrama Bagi Anak Tunalaras yang perlu dipisah belajarnya dengan kawan yang lain karena kenakalannya cukup berat atau merugikan kawan sebayanya.


4. Sekolah dengan asrama. Bagi mereka yang kenakalannya berat, sehingga harus terpisah dengan kawan maupun dengan orangtuanya, maka mereka dikirim ke asrama. Hal ini juga dimaksudkan agar anak secara kontinyu dapat terus dibimbing dan dibina. Adanya asrama adalah untuk keperluan penyuluhan.